Saturday, March 12, 2011

Dusun Paskid

Di kaki gunung Slamet yang menjulang tinggi, angin semilir di hamparan sawah yang menghijau. Di sudut dusun yang terpencil bernama Paskid, terdengar aneh namanya tapi begitulah nama nya entah siapa yang memberi nama.
Di sebelah utara dusun kira-kira 3 kilometer terbentang kampung nelayan di laut jawa. Sebelah barat di batasi dengan sungai dari Gunung Slamet sampai ke Laut Jawa. Disebelah timur terhampar berhektar-hektar sawah yang menghijau. Disebelah selatan terbentang juga hamparan sawah dan di lewati jalur kereta utama dari Ibu kota menuju Pusat Jawa Tengah. Disebelah utara sebelum laut lepas, terbujur panjang jalan Dendeles yang konon peninggalan Belanda yang melintasi sepanjang Pulau Jawa.
Ya... hanya kampung/dusun kecil saja Man tinggal. hanya butuh waktu 45 menit saja untuk ukuran anak SMP mengelilingi dusun itu. Tapi penduduknya sangatlah bersahaja, dengan gotong royong yang tinggi, tepo seliro yang masih kental, persaudaraan yang sangat erat, kehidupan yang sangat sederhana.
Man tinggal bersama 7 saudaranya, ia adalah anak ke 6 dari urutan saudaranya. Semua kakanya adalah Laki-laki hanya 1 perempuan yaitu adiknya. Ayah Man hanyalah tukang batu yang akan bekerja membantu pembangunan rumah orang pun jika ada yang minta tolong, jika tidak maka Ayah Man bekerja apa saja untuk menghidupi dan menyekolahkan 7 anaknya. Sebetulnya adik dari Man ada 2 keduanya perempuan, tetapi yang bungsu hanya bertahan sampai umur 2 tahun saja. Bahkan sampai sekarang Man lupa untuk mengingat wajahnya, yang teringat hanya nama pendeknya saja Ipah.
Ibu Man hanyalah tukang jahit yang menunggu pelanggan yang kan membetulkan baju, atau membuatkan baju jika ada pesanan saja, Ibu punya keahlian tambahan yaitu bordir, saat Man usia SD kelas 4 Ibu punya 2 anak murid yang belajar bordir dirumah, karena bordiran Ibu dikenal halus dan rapi.
Di depan rumah Man berdiri Masjid kebanggaan kampun Paskid ini, karena Masjid ini tetap digunakan untuk sholat Jum'at bahkan yang datang dari kampung tetangga yang mereka harus mengayuh sepeda untuk menuju ke MAsjid ini.
Dibelakang rumah Man masih terdapat kebun kelapa punya keluarga besar Ibu, dan disebelahnya berdiri MAdrasah Diniyah yang hanya digunakan pada siang hingga sore untuk kegiatan belaj-mengajar Agama Islam. Nuansa Islam begitu kental di dusun tersebut.

Friday, December 31, 2010

Flash Back 1

Man terpaku melihat 5 tubuh tergolek tidur pada 1 tempat tidur. Paling ujung Kaka memeluk guling, disampingnya  Au terpejam dengan tangan memegang botol susu yang masih menempel dimulutnya. disamping Au, Mpa memeluk Mamanya yang sedang menyusui bayi Din yang masih merah.
Man tatap satu-satu wajah mereka yang terlelap tidur.
Sesaat bayangan masa kecilnya muncul dibenak. Nun jauh disana, saat waktu tidur menjelang Man, Kakak-kakanya dan adiknya tidur dalam satu ranjang yang sempit. Mirip ikan yang dipindang.
Man tersenyum, dan menghela napas.
Teringat sore menjelang malam, Kaka merengek minta main dengan teman-temannya di halaman tapi tidak diperbolehkan main oleh Mama hanya karena dihalaman rumah banyak Ibu-ibu sedang ngobrol. Man trenyuh, Kaka yang belum genap 6 tahun itu sudah mendapat tekanan sedemiian besar untuk hanya bersosialisasi dengan teman sebayanya.
Mpa tidak mau kalah dengan Kakaknya pun ingin main sepeda di depan rumah. Au yang jalan pun belum lah lancar sudah teriak-teriak minta main melihat angsa, kucing yang lewat dihalaman.
Man terhenyak betapa waktu kecilnya dulu, sungguh bahkan Ibu yang menyuruhnya tuk main, tapi Man tak suka main. Man lebih suka diam dirumah asik dengan mainan yang ada.
Man memanggil anak-anaknya tuk mereda emosi mereka, ajak masing-masing tuk memainkan permainan sederhana yang ada dirumah. Namun karena hatinya sedang gundah memikirkan beban hidup yang sangat berat, sehingga Man tidak bisa lepas untuk mengajak mereka bermain. Mama malah menghardik Kaka dan Mpa untuk tidak keluar rumah. Kaka menangis, Mpa terdiam, Au menjerit... Mama giliran menghardik Man yang sedang berusaha mendiamkan mereka.
" Tuh... Ayah selalu membiarkan anak-anaknya liar diluar, main seperti orang kampung!!!"
" Mah, kan mereka hanya minta main... tak apalah, kan mereka bosan didalam rumah terus..." katanya
" Iya, bosan sebab ayahnya ga pernah ngajak jalan-jalan anaknya... kemana kek, ke Mall lah, ke Bon Bin lah, atau kemana kek.. jangan alasan ga punya uang mulu... CARI... CARI.. CARI..." kata Mama istrinya dengan nada meninggi...
Man mending terdiam tidak melayani kata-kata istrinya daripada malah semakin mengacaukan suasana. Man berusaha mendiamkan satu persatu anaknya. Au terdiam setelah botol susunya yang selalu dipegangnya disusupkan di mulut kecilnya. Mpa kembali tertawa setelah chanel TV saya ubah ke Sponge Bob. Sedang Kaka masih sesenggukan setelah saya kasih air putih. Kaka memiliki emosi yang sama dengan Mama, sehingga gampang berontak.
Sekali lagi, Man menghela napas dalam-dalam...
Matanya nanar melihat mereka... pikiranya melayang ke sudut kota kecil yang dikenal dengan Jepangnya negeri ini.. mengenang, merunut sejarah yang terjadi pada dirinya...

Saturday, October 16, 2010

Intro

Seiring lagu dari KLa Project " Belahan Jiwa "
perjalanan hidup ini melaju kencang...

Membaca lagi surat-suratmu, hatiku jatuh rindu
Tak sadar pada langit kamarku, kulukis kau di situ
Waktu yang berlalu, dan jarak masih saja terbentang
Penamu bicara, menembus ruang menyapa sukmaku
Mendesah lembut angin membawa butiran hati lara
Ternyata meraih kesempatan, tak semudah kusangka
Kau setia menunggu lelaki kecil menantang hidup
Kau sertakan do'a, seolah mantra menjelma nafasku
Memendam tanya seg'ra terucap
Belahan jiwa apa kabarmu
Kuharap s'lali tetap kau jaga
Tumbuhan cinta yang di ladang kita ...
Kau setia menunggu lelaki kecil menantang hidup
Kau sertakan do'a, seolah mantra menjelma nafasku
Memendam tanya seg'ra terucap
Belahan jiwa apa kabarmu
Kuharap s'lali tetap kau jaga
Tumbuhan cinta yang di ladang kita
Aku ... jauh di sini menggapai cita
Hingga ... satu saat pasti ku kan kembali
Kan kujemput dikau Sang Putri, pada saatnya nanti
Berkereta kencana kubawa pergi, 'tuju istana di sana ku bertahta
Memendam tanya seg'ra terucap
Belahan jiwa apa kabarmu
Kuharap s'lalu tetap kau jaga
Tumbuhan cinta yang di ladang kita
Aku ... jauh di sini menggapai cita
Hingga ... satu saat pasti ku kan kembali 


..........
....
..
.